Iceland tidak menyambut saya dengan senyuman hangat. Ia datang dengan keheningan yang menusuk, dengan angin dingin yang seolah ingin mengingatkan manusia bahwa dunia ini lebih besar daripada dirinya sendiri. Di tengah kembara, saya berdiri di hamparan ais dan salji yang memutih, melihat bumi yang tampak tandus, sunyi, dan menakutkan. Di sinilah rasa ngeri dan gerun itu muncul — bukan dari bahaya manusia, tapi dari kekuatan alam yang terlalu jujur, terlalu murni, dan terlalu tak terkawal. Jejak Pertama di Salju Putih Langkah pertama di atas salju terasa seperti menapaki dunia lain. Setiap jejak kaki saya segera tertutup oleh angin yang meniup pasir salju ke segala arah. Permukaan dataran tampak tak berujung, horizon bercampur antara putih dan abu-abu. Saya tersentak ketika melihat retakan kecil di permukaan es — celah-celah yang menakutkan, menandakan bahwa bumi ini hidup, bergerak, dan tidak peduli pada keberadaan saya. “Apakah aku benar-benar siap menghadapi sunyi dan dingin yang mutl...
MOHD AMIN AHMAD ajiemintebo@blogspot.com