Skip to main content

Iceland: Rasa Ngeri dan Gerun Menyusuri Iceland: Kembara Dalam Dataran Ais dan Salji





Iceland tidak menyambut saya dengan senyuman hangat. Ia datang dengan keheningan yang menusuk, dengan angin dingin yang seolah ingin mengingatkan manusia bahwa dunia ini lebih besar daripada dirinya sendiri.


Di tengah kembara, saya berdiri di hamparan ais dan salji yang memutih, melihat bumi yang tampak tandus, sunyi, dan menakutkan. Di sinilah rasa ngeri dan gerun itu muncul — bukan dari bahaya manusia, tapi dari kekuatan alam yang terlalu jujur, terlalu murni, dan terlalu tak terkawal.





Jejak Pertama di Salju Putih



Langkah pertama di atas salju terasa seperti menapaki dunia lain. Setiap jejak kaki saya segera tertutup oleh angin yang meniup pasir salju ke segala arah. Permukaan dataran tampak tak berujung, horizon bercampur antara putih dan abu-abu.


Saya tersentak ketika melihat retakan kecil di permukaan es — celah-celah yang menakutkan, menandakan bahwa bumi ini hidup, bergerak, dan tidak peduli pada keberadaan saya.


“Apakah aku benar-benar siap menghadapi sunyi dan dingin yang mutlak ini?”


Rasa ngeri muncul dari kesadaran bahwa saya hanyalah titik kecil di tengah hamparan luas yang tidak ramah. Tidak ada pepohonan, tidak ada rumah, tidak ada tanda kehidupan selain sesekali burung atau bayang awan yang menari di es.





Dataran Tundra yang Tandus



Semakin jauh saya melangkah, lanskap berubah menjadi tundra tandus. Gunung-gunung es menjulang di kejauhan, puncaknya tertutup salju yang tampak seperti pedang raksasa menunggu untuk jatuh. Angin musim dingin menggigit tulang, dan udara tipis membuat napas tersengal.


Di sini, rasa gerun semakin terasa. Tanah di bawah kaki tidak stabil, dan setiap langkah harus diperhitungkan. Ada saat ketika saya harus menahan diri untuk tidak tergelincir di permukaan es yang licin, sambil menatap jurang es yang dalam di sisi jalan.


Saya berdiri lama di puncak bukit kecil, memandang dataran putih yang tak berujung, dan merasakan kecilnya manusia dalam semesta ini. Rasa ngeri bukan karena takut jatuh, tapi karena kesunyian yang mencekam, membuat hati saya berdetak lebih cepat.





Angin yang Membisikkan Ketakutan



Angin di Iceland bukan angin biasa. Ia seperti bisikan alam yang mengingatkan manusia bahwa kita hanyalah pengunjung sementara. Saya menundukkan kepala, melindungi wajah dari salju yang menyambar, dan menyadari bahwa setiap hembusan angin ini membawa rasa ngeri tersendiri: adakah saya cukup kuat untuk terus melangkah?


Di tengah hamparan putih itu, saya mulai berbicara sendiri dalam hati. Bisikan alam membuat saya merenung:


  • tentang kesendirian,
  • tentang keterbatasan diri,
  • tentang bagaimana manusia sering terlalu sombong terhadap kekuatan alam.



Setiap langkah terasa berat, setiap napas terasa berharga. Saya mulai mengerti bahwa kembara ini bukan sekadar fisik, tetapi perjalanan batin yang menegangkan.





Gunung Es dan Sungai Beku



Salah satu momen paling ngeri adalah ketika saya melintasi sungai yang membeku. Permukaannya tampak kuat, tetapi retakan halus di bawah kaki membuat saya ragu. Hanya suara napas saya dan gemerisik salju yang terdengar. Tidak ada penanda manusia lain, tidak ada jalan kembali yang jelas.


Gunung es di sekitar sungai berdiri seperti penjaga sunyi, diam, besar, dan mengintimidasi. Saya merasakan ketidakberdayaan manusia terhadap alam. Rasa gerun bukan hanya fisik — itu menembus ke dalam jiwa.


Namun di balik ketakutan itu, ada kekaguman yang tak terbendung. Saya merasa hidup dengan intensitas yang jarang saya rasakan sebelumnya. Setiap detik yang saya jalani di hamparan ais ini menjadi pelajaran tentang kesabaran, keberanian, dan kerendahan hati.





Senja di Hamparan Putih



Menjelang senja, matahari rendah di ufuk, menimbulkan cahaya oranye keemasan di atas hamparan es yang putih. Bayangan gunung es memanjang, dan udara dingin semakin menusuk. Saya duduk di atas batu es kecil, menatap horizon.


Dalam keheningan itu, saya menyadari bahwa rasa ngeri dan gerun adalah bagian dari pengalaman yang membuat kembara ini menjadi hidup sepenuhnya. Jika segalanya nyaman dan aman, pengalaman ini tidak akan pernah membekas di hati.





Pulang Dengan Jiwa yang Lebih Teguh



Kembara di Iceland yang dipenuhi es dan salju bukan sekadar perjalanan fisik. Ia adalah perjalanan batin. Saya meninggalkan hamparan putih dengan tubuh lelah, tetapi hati penuh rasa syukur.


Dari pengalaman ini saya belajar:


  • Kesunyian bisa menjadi guru yang menakutkan, tetapi memberi kebijaksanaan,
  • Rasa ngeri dan gerun bisa mengajarkan keberanian,
  • Alam yang keras dan tandus mengingatkan manusia tentang keterbatasan dan ketabahan.



Iceland mengajarkan saya bahwa keindahan sering datang bersamaan dengan ketakutan. Dan dalam rasa ngeri itu, kita belajar merasakan hidup dengan lebih intens, lebih sadar, dan lebih menghargai setiap langkah.


Comments

Popular posts from this blog

Coretan Kembara - Habib Ali Batu Pahat yang kutemui

Pak Habib dengan senang hati menyambut semua tetamunya tanpa melebihkan antara satu dengan lainnya. Seperti biasa bila memandang Pak Habib ni, timbul rasa tenang dalam diri               Ketika melayari internet untuk mencari informasi tempat-tempat yang menarik untuk dilawati di Surabaya, ada beberapa pelan perjalanan yang menjurus kepada lawatan tempat lahirnya Wali Songo. Banyak juga tokoh-tokoh agama yang hebat yang dicadangkan untuk diziarahi. Dalam banyak-banyak itu hamba ternampak satu nama dan gambar yang hamba pernah temui di rumahnya di Kampung Solok Wan Mor, Batu Pahat. Dia dikenali sebagai Habib Ali Batu Pahat atau nama sebenarnya al-Habib Syed Ali bin Syed Ja'far al-Idrus.            Pada kali pertama hamba menziarahinya kerana termakan pujuk seorang rakan yang mengajak hamba ke Batu Pahat untuk menziarahi Habib Ali kerana katanya amalan yang digalakkan pada 10 Muharam ialah menziarahi alim. Ke...

Rehlah Palestin: Kuziarahi maqam Nabi Musa yang terletak di luar Baitul Maqdis.

us Dalam kembara ke Palestin ini hamba berkesempatan menziarahi Makam Nabi Musa dan masjid Nabi Musa. Ketika itu baru masuk waktu Zohor, ramai jemaah kebanyakannya musafir yang tujuannya untuk menziarahi makam Nabi Musa, dan disekitar tempat ini tidak ada perkampungan, hanya kawasan perbukitan yang tandus dan pasirnya berwarna kemerahan. Jemaah meminta hamba menjadi imam bagi solat Jamak Qasar Zohor dan Asar. Itulah rezeki sebagai kenangan seumur hidup dalam kembara Palestin ini. Makam  Nabi Musa terletak di di suatu tempat yang berada 11km  ke selatan bandar Jericho dan 20 km  ke timur Jerusalem dekat kawasan gersang Judea.  Kawasan yang terdiri pebukitan batu berwarna merah itu kelihatan sunyi.  Tidak ada perkampungan di situ, hanya bangunan masjid yang dinamakan Masjid Nabi Musa, yang mana di dalamnya terdapat makam Nabi Musa.  Walaupun terdapat berbagai pendapat tentang lokasi Nabi Musa wafat namun lokasi inilah yang paling tepat di mana Nabi Musa dimak...

Sejarah Kubah Emas di Masjid Al Aqsa

  Di dalam Masjid al-Aqsa terdapat beberapa buah kubah cantik yang menghiasi halaman masjid. Kesemua kubah ini telah dibina semenjak pemerintahan Islam lagi bermula dari zaman Umaiyah hinggalah ke zaman pemerintahan al-Ayyubi, Mamluk dan Uthmaniyyah. Usaha-usaha tersebut merupakan manifestasi umat Islam akan keprihatinan mereka dalam memberi impak dan sumbangan untuk menghidupkan Masjid al-Aqsa. Kubah-kubah ini telah dibina atas pelbagai tujuan antaranya dijadikan tempat untuk para jemaah menunaikan solat, majlis-majlis ilmu  atau tempat untuk melakukan ibadah dan iktikaf. Berikut merupakan 15 buah kubah yang terdapat di dalam halaman Masjid al-Aqsa:   Kubah as-Sakhrah al-Mushrifah (Kubah Batu / The Dome of the Rock) Merupakan salah satu model seni bina Islam yang paling agung dan indah pada era awal pemerintahan Islam di dunia. Kubah ini telah dibina semasa kerajaan Umaiyah oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan pada tahun 65-86 H bersamaan dengan tahun 685-705 M di k...