Ada perjalanan yang membawa kita melihat dunia, dan ada perjalanan yang membawa kita pulang kepada diri. Kembara ke Pulau Bintan dan Pulau Penyengat ini bukan sekadar menjejak pantai dan kota, tetapi menyusuri akar kemelayuan yang lama terbenam di dasar jiwa. Di sinilah Melayu tidak hanya disebut dalam buku, tetapi hidup pada angin laut, pada senyum orang kampung, pada masjid, makam, dan bait-bait sejarah yang masih berdenyut. Aku datang sebagai musafir, pulang sebagai anak rantau yang menemukan semula makna warisan. Inilah catatan rasa—memori manis dan semangat kemelayuan yang membara. Pulau Bintan: Di Antara Laut Biru dan Jiwa Melayu Langkah pertama menjejak Pulau Bintan, aku disambut angin laut yang lembut tetapi berjiwa. Lautnya biru tenang, pantainya seakan hamparan doa, dan langitnya luas seperti membuka ruang untuk manusia merenung dirinya sendiri. Bintan tidak menjerit keindahan, ia memanggil perlahan. Aku berjalan di pesisir, membiarkan tapak kaki menyentuh pasir yang mas...
MOHD AMIN AHMAD ajiemintebo@blogspot.com