Melihat pondok pesantren makin maju dan kuat, para Wali Songo muda mendesak supaya Raden Fatah segera diangkat menjadi raja di Demak. Namun Sunan Ampel sebagai guru spiritual Raden Patah dan sunan yang paling dituakan tidak mau terburu-buru.
Sunan Ampel mempertimbangkan bahwa Kerajaan Majapahit masih diperintah Prabu Brawijaya V, ayah kandung Raden Patah. Menurut Sunan Ampel, tidaklah patut seorang anak berbuat makar terhadap ayahnya sendiri.
Namun, Sunan Ampel memperkirakan bahwa Majapahit akan runtuh dengan sendirinya karena tengah dilanda gejolak internal. Perkiraan Sunan Ampel tepat. Majapahit mula goyang setelah digempur Kerajaan Kediri. Dalam serangan itu, Prabu Brawijaya V gugur di Kadaton dan digantikan Girindawardhana Dyah Ranawijaya untuk beberapa tahun lamanya.
Saat Majapahit dipimpin Girindrawardhana, barulah Sunan Ampel bersedia mengangkat Raden Patah sebagai raja pertama Kesultanan Demak. Ia diberi gelar Senopati Jimbun Ngabdurrahman Panembahan Palembang Sayidin Panatagama. Adapun gelar yang diperoleh oleh Raden Patah selaku raja pertama Kerajaan Demak adalah Sultan Alam Akbar al-Fatah. Ia menjabat sejak tahun 1500 sampai 1518.
nama Raden Patah diambil dari gelarnya, Al Fatah yang berarti "Sang Pembuka" karena dalam sejarah Islam di Nusantara, ia dinobatkan sebagai seorang pembuka kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa.
Dalam menjalankan pemerintahannya, Raden Patah dibantu oleh ulama Wali Songo hingga Kerajaan Demak menjadi kerajaan Islam ternama.
Pada masa pemerintahannya, kekuasaan Raden Patah semakin meluas. Daerah yang masuk dalam wilayah kekuasaannya antara lain Pati, Rembang, Jepara, Semarang, Selat Karimata, hingga daerah di Kalimantan.
Peranan Raden Patah juga adalah dalam mendirikan Masjid Agung Demak yang dipercayai menjadi tempat berkumpulnya ulama Nusantara.
Masjid ini juga berpengaruh pada masyarakat umum. Salah satunya adalah dinamika keadaan masyarakat yang tercermin dari perkembangan yang terjadi, yaitu sebagai akibat dari hubungan antara individu dan kelompok.
Masjid Agung Demak juga menjadi lambang kebesaran Kesultanan Demak pada masanya sebagai Kerajaan Islam di tanah Jawa. Keistimewaan lainnya dari masjid tersebut adalah salah satu tiangnya dibuat dari kumpulan sisa kayu pembangunan masjid tersebut yang dikumpulkan dan disatukan.
Selama menjadi raja, kehidupan masyarakat Kesultanan Demak juga berjalan teratur dan diatur dengan hukum Islam. Akan tetapi, norma dan tradisi yang lama tidak ditinggalkan begitu saja.
Setelah Sunan Ampel wafat, Raden Patah dibantu oleh perajuritnya di pesisir utara Jawa memimpin serangan menggempur Majapahit hingga hancur. Keruntuhannya disimbolkan sebagai hancurnya agama Hindu di Jawa. Sisa-sisa pengikut Girindrawardhana di Majapahit melarikan diri ke Blambangan, Tengger, Bali hingga Mataram.
Raden Fatah mangkat pada tahun 1518 di Demak. Kesultanan Demak kemudian dipimpin oleh putra Raden Patah, Adipati Unus selama 3 tahun pada 1518-1521 M. Pati Unus kemudian digantikan oleh adiknya yang bernama Sultan Trenggana.
SEKIAN.






Comments